Senin, 22 Desember 2014

Tingkat Kepedulian Kesehatan Warga, Lewat Penyuluhan



Jakarta-Untuk meningkatkan kepedulian warga tentang kesehatan, khususnya bagi keluarga muda dan wanita yang sedang hamil agar tidak ada lagi ibu dan bayi yang meninggal karena kehamilan, persalinan, nifas, dan gizi buruk. 

Pemerintah Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, yag dikomandoi oleh Sugiharjo Timbo, belum lama ini,  menggelar Penyuluhan Angka Kematian Ibu dan Balita, bertempat di Balai Warga RW 03, Keluarahan Kelapa Gading Barat. Hadir sebagai nara sumber  Bidan Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading,  Siti Khotiiah. 

Lurah Kelapa Gading Barat, Sugiharjo Timbo mengakui, memang, hanya Tuhan yang menentukan usia manusia. Namun, setidaknya, kita hanya melakukan pencegahan, salah satunya melalui sosialisasi yang kita lakukan seperti ini. 

Sementara itu, Bidan Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading, Siti Khotiiah menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kematian ibu dan balita. 
Tertinggi adalah pendarahan. Kemudian, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, komplikasi nifas, dan keguguran. Berdasarkan hasil survei demografi kesehatan 2007, angka kematian ibu di Indonesia mencapai 228 per 100 ribu kelahiran hidup. Angka ini memang menurun dibandingkan lima tahun sebelumnya. Pun begitu, semua masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 sebesar 102 per 100 ribu kelahiran hidup.

Begitupun dengan angka kematian bayi. Meski  mengalami penurunan drastis sebesar 44 persen selama 18 tahun terakhir, angka itu juga belum mampu mencapai target MGDs sebesar 23 per 100 ribu kelahiran hidup.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kematian ibu dan balita. Tertinggi adalah pendarahan. Kemudian, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, komplikasi nifas, dan keguguran. Risiko kematian ibu juga kian tinggi akibat adanya faktor keterlambatan. Keterlambatan mengambil keputusan, terlambat mengenali tanda bahaya, dan terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat keadaan darurat.

Sedangkan pada bayi, dua pertiga kematian terjadi pada masa neonatal atau 28 hari pertama kehidupan. Penyebab tertinggi adalah bayi berat lahir rendah dan prematuritas, kegagalan benafas spontan, infeksi, serta gizi buruk.

 “Dari 57 kematian per 100 ribu kelahiran hidup pada periode 1990-1994 menjadi 32 kematian per 100 ribu kelahiran hidup pada periode 2008-2012. Memang masih jauh dari yang diharapkan,” kata dia.

Untuk mengejar target tersebut, ditambahkan Siti Khotiiah, kami akan terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyebab terjadinya kematian ibu dan bayi.

 “Deteksi risiko tinggi dan pengenalan tanda bahaya pada kehamilan, persalinan, nifas, dan tanda terjadinya gizi buruk pada balita perlu diketahui dan dipahami oleh masyarakat. Sehingga, semua dapat dicegah sedari dini dengan penanganan yang tepat. Semoga dengan langkah ini, kita mampu mencapai target MDGs 2015,” pungkas dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar